Subscribe to Feeds

Lorem Ipsum Dolor .......

Lorem ipsum lorem ipsum lorem ipsum lorem ipsum.......

Financial Accounting


The purpose of accounting is to provide the information that is needed for sound economic decision making. The main purpose of financial accounting is to prepare financial reports that provide information about a firm's performance to external parties such as investors, creditors, and tax authorities. Managerial accounting contrasts with financial accounting in that managerial accounting is for internal decision making and does not have to follow any rules issued by standard-setting bodies. Financial accounting, on the other hand, is performed according to Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) guidelines. Read more....


Tax accounting in the United States


This article is about methods of accounting for income in tax returns. For methods of accounting for tax in financial statements, see Deferred tax.
U.S. tax accounting refers to accounting for tax purposes in the United States. Unlike most countries, the United States has a comprehensive set of accounting principles for tax purposes, prescribed by tax law, which are separate and distinct from Generally Accepted Accounting Principles. Read more.....


Mengelola Kartu Persediaan Supplies


Pada dasarnya barang supplies dalam neraca termasuk bagian dari Aktiva Lancar. Barang supplies disebut juga dengan istilah perlengkapan, yaitu barang-barng yang melengkapi kebutuhan dalam kegiatan perusahaan yang sifatnya habis dipakai dalam kegiatan perusahaan. Read more....`


Saham Properti


Tingginya tingkat kebutuhan dan permintaan terhadap perumahan, menyebabkan tumbuh dan berkembangnya perusahan-perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan perumahan baik dari perumahan untuk kalangan atas maupun penyediaan perumahan untuk kalangan bawah, kemudian perusahaan tersebut menjalin kerjasama dengan lembaga/perusahaan penjamin kredit dalam rangka penjualan property. Read more....


Investment


Investasi adalah penanaman uang atau modal di suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Pada kondisi sekarang, kegiatan investasi sudah berkembang dan semakin komplek dan juga sangat mudah. Salah satu contohnya adalah penanaman modal untuk perusahaan, sekarang tidak perlu menunggu uang kita terkumpul banyak, tetapi cukup dengan uang yang jumlahnya kecil tapi secara kolektif. Dana yang dihimpun akan menjadi besar dan dapat diinvestasikan kebeberapa perusahaan (Reksadana). Read more....


Cash Flow


Laporan arus kas (cash flow) adalah laporan yang menggambarkan tentang posisi kas perusahaan dalam suatu periode akuntansi. Laporan arus kas meliputi laporan yang berisi siklus kas perusahaan yang digolongkan kedalam tiga golongan aktivitas normal suatu perusahaan, yaitu arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, dan arus kas dari aktuvitas pendanaan (Financial). Read more....


Damai Dalam Zikir


Zikir artinya ingat dan sebut. Kaitannya dengan zikrullah, zikirberarti mengingat dan menyebut asma Allah, Ingat adalah gerak hati sedangkan sebutan adalah gerak lisan. Zikir dalam hati lebih baik dibandingkan zikir lisan semata, Lebih sempurna jika keduanya dipadukan. Zikir yang terbaik adalah perpaduan antara zikir hati dan zikir lisan. Hati mengingat Allah dan lisan menyebut-Nya. Dengan adanya perpaduan tersebut awal dari khusyu. Read more....

INVESTASI AKTIVA LANCAR DAN TETAP

A. INVESTASI AKTIVA LANCAR (CURRENT ASSETS INVESTED)

1. Pengertian

Proses Investasi

Proses Investasi menunjukkan bagaimana pemodal seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas:yaitu sekuritas apa yang akan dipilih,seberapa banyak investasi tersebut dan kapan investasi tesebut akan dilakukan.untuk mengambil keputusan terswbut di perlukan langkah-langkah sebagai berikut :

§ Menentukan kebijakan investasi

Disini pemodal perlu menentukan apa tujuan investasinya,dan berapa banyak investasi tersebut akn dilakukan. Karena ada hubungan yang positif antara resiko dan keuntungan investasi,maka pemodal tidak bisa mengatakan bahwa tujuan investasinya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Ia harus menyadari bahwa ada kemungkinan untuk menderita rugi. Jadi tujuan investasi harus dinyatakan dalam baik dalam keuntungan maupun resiko.

Pemodal yang bersedia yang bersedia menanggung resiko lebih besar (dan karenanya mengharapkan memperoleh keuntungan yang lebih besar), akan mengalokasikan dananya pada sebagian besar sekuritas yang lebih beresiko.

§ Analisis Sekuritas

Tahap ini berarti melakukan analisis terhadap individual atau kelompok sekuritas. Ada dua filosofi dalam melakukan analisis sekuritas. Pertama adalah mereka yang berpendapat bahawa ada sekuritas yang Misspriced (harganya salah, mungkin terlalu tinggi atau terlalu rendah) dan analisis dapat mendeteksi sekuritas-sekuritas tersebut. Kedua adalah mereka yang berpendapat bahwa harga sekuritas adalah wajar.

Kalaupun ada sekuritas yang misspiced. Analisis tidak mampu untuk mendeteksinya. Pada dasarnya mereka yang menganut pendapat ini berpendapat bahwa pasar modal efisien. Sengan demikian pemilihan sekuritas bukan didasarkan atas dasar misspriced, tetapi didasarkan preferensi resiko para pemodal atau pemodal yang bersedia menanggung resiko tinggi akan memilihh saham yang lebih beresiko.

§ Pembentukan portofolio

Portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih. Dan berapa proporsi dana yang akan ditamamkan pada masing-masing sekuritas tersebut

§ Melakukan revisi portofolio

Tahap ini merupakan pengulangan terhadap tiga tahap sebelumnya, dengan maksuk kalu perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang telah dimiliki. Kalau dirasa bahwa portofolio yang sekarang dimiliki tidak lagi optimal, atau tidak sesuai dengan preferensi resiko pemodal, maka pemodal dapat melakukan perubahan terhadap sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut.

§ Evaluasi kinerja portofolio

Dalam tahap ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portoolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun resiko yang ditanggung.

Stategi Investasi

Dalam melakukan analisis, pemodal mungkin melakukan strategi pemilihan saham yang termasuk Growth stocks atau value stock growth stoks adalah saham-saham yang diharapkan memberikan pertumbuhan laba yang lebih tinggi dari rata-rata saham-saham lain. Value stock sebaliknya, menunjukan saham-saham perusahaan yang menunjukan asset yang nampak murah, dan neraca yang kuat.

- Strategi Investasi Aktif

Strategi ini mendasarkan diri pada asumsi bahwa: (a) pasarmodal melakukan kesalahan dalam penentuan harga (misspriced), dan (b) para pemodal berpendapat bisa menindentifikasikan misspriced ini memanfaatkannya (apakah memang kedua asumsi tersebut benar, masih merupakan masalah yang perlu diteliti)

- Strategi Investasi Pasif

Apabila pasar modal sepenuhnya efisien, maka pilihan yang paling masuk akal adalah melakukan strategi investasi pasif. Strategi investasi pasif mendasarkan diri pada asumsi bahwa (a) pasar modal tidak melakukan misspricing) dan (b) meskipun terjadi misspricing, para pemodal berpendapat bahwa mereka tidak dapat melakukan idendifikasikan dan memanfaatkannya. Dengan kata lain, penganut strategi ini tidak bermaksut untuk mengalahkan (out performance) pasar.

2. Surat Berharga / Sekuritas (marketable Security)

Sebenarnya investasi dalam bentuk sekuritas dapat digolongkan kedalam investasi jangka panjang dan investasi jangka pendek. Initergantung kepada tujuan seseorang yang melakukan investasi. Apabila seseorang melakukan investasi bertujuan untuk memanfaatkan Idle money, maka ini disebut investasi jangka panjang dan apabila tujuannya untuk mendapatkan penghasilan yang tetap disetiap periode, maka ini disebut investasi jangka panjang.

Sekuritas merupakan secarik kertas yang menunjukan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dariprospek atau kekayaan dari organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut, dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya. Sekuritas bisa diperjual belikan dan merupakan instrument yang berjangka panjang. Penerbitan sekuritas dilakukan di pasar modal, sedangkan kegiatan perdagangannya dilakukan di bursa. Di Indonesia terdapat dua bursa yaitu Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.

Jenis-jenis Sekuritas

Jenis-jenis sekuritas yang diperdagangkan dipasar financial sangat beragam, diantaranya :

- Saham

- Obligasi

- Sertifikat right

- Waran

Sekuritas adalah surat bukti yang menyatakan bahwa pemegang sekuritas ikut srta dalam modal. Dan obligsi surat tanda hutang jangka panjang yang diterbitkan oleh perusahaan ataupun pemerintah. Dengan membeli obligasi, pemilik obligasi tersebut berhak menerima Bunga (interest) yang biasa dibayarkan setiap 6 bulan (1 semester) dan harga nominalnya pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.

Obligasi memiliki karakteristik karakteristik yang bermacam-macam. Diantaran jenis-jenis tersebut, salah satu jenis yang “tradisional” adalah obligasi yang menawarkan bunga yang tetap dengan jangka waktu tertentu. Misalnya suatu obligasi mempunyai nilai nominal Rp 1.000.000 mempunyai coupon rate 18 % dan jangka waktu 5 tahun. ini berarti bahwa pembeli obligasi tersebut akan menerima bunga sebesar 18 % x Rp 1.000.000 = Rp 180.000 setiap tahun atau Rp 90.000 setaip semester, Mulai dari tahun pertama sampai dengan tahun kelima. Pada tahun kelima pemilik obligasi akan memperoleh pelinasan pokok pinjamannya yaitu sebesar Rp 1.000.000,-

Selama berjalannya waktu, harga obligasi bisa naik bisa juga turun. Jadi meskipun penghasilan yang diterima dalam bentuk bunga bersifat tetap, tetapi jika pemodal akan menjual obligasi tersebut sebelum jangka waktu pelunasannya ada kemungkinan bahwa ia akan menerima harga yang berbeda dengan harga yang dulu ia bayar. di Indonesia obligasi yang diperdagangkan di pasar modal merupakan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan dengan jangka waktu minimal 4 tahun. Pemerintah belum menerbitkan obligasi yang juga diperdagangkan di pasar modal.

3. Kas (Cash)

Selain pada sekuritas, investasi juga dapat dilakukan kedalam bentuk kas. Namun investasi dalam bentuk kas biasanya hanya dilakukan oleh pemilik perusahaan yang ingin menambah saldo kas pada perusahaannya. Ini dilakukan demi menunjang kelancaran kegiatan operasional perusahaaannya.

Apabila saldo kas suatu perusahaan terlalu tinggi, maka tentu pada perusahaan tersebut memiliki idle money (uang nganggur) yang berlebihan. Idle money yang berlebihan akan sangat efektif terhadap perusahaan. Disini perusahaan tersebut perlu melakukan pemanfaatan terhadap idle money tersebut baik itu dengan cara berinvestasi dalam bentuk jangka pendek, maupun dalam bentuk lainnya.

Apabila terjadi sebaliknya yaitu perusahaan merasa kekurangan kas, maka pemilik perusahaan harus melakukan kebijakan baik dengan mengeluarkan saham-saham atau obligasi, maupun dengan cara menambah saldo kas perusahaan tersebut dengan uang pribadi.

Kas adalah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. Kas dapat berupa uang tunai maupun uang simpanan pada bank yang dapat dipergunakan dengan segera dan diterima sebagai alat pembayaran sebesar nilai nominalnya.

Yang termasuk kedalam kas antara lain adalah :

1) Uang kertas dan uang logam

2) Cek dan bilyet giro

3) Simpanan pada bank yang berbentuk giro

4) Travel’s chek, yaitu cek yang dikeluarkan khusus untuk perjalanan (Tourism-business)

5) Money order, yaitu surat perintah membayar sejumlah uang tetentu berdasarkan keperluan pengguna.

6) Cashier’s Chek, yaitu cek yang dibuat oleh bank yang suatu saat dapat dicairkan dibank itu juga.

7) Bank Draf, yaitu cek atau perintah membayar dari suatu bank yang mempunyai rekening dibank lain, yang dikeluarkan atas permintaan seseorang atau nasabah, melalui pentetoran lebih dulu dibank pembuat.

Sesuai Kriteria kas diatas, maka fungsi kas dalam suatu perusahaan sangat penting, karena hamper semua kegiatan yang dilakukan oleh suatu perusahaan selalu berkaitan dengan kas. Tanpa kas suatu perusahaan tidak akan berjalan dengan lancar.

Pengawasan kas (Controlling on Cash)

Kas bersifat sangat mudah dipindah tangankan dan tidak dapat dibuktikan kepemilikannya, sehingga kemungkinan terjadinya kemungkinan penyelewengan sangat besar. Untuk itu diperlukan pengawasan untuk melindungi kas dari pencurian, penyelewengan dan penyalahgunaan kas. Perusahaan harus mengendalikan kas mulai dari diterimanya hingga sampai disetorkan ke bank. Prosedur seperti ini disebut pengendalian preventif (preventive Control). Prosedur yang dirancang untuk mendeteksi pencurian atau penyalahgunaan kas disebut Pengendalian Detektif (Detective Control).

Dalam pengertian tertentu, pengendalian detective juga bersifat presentive (mencegah) karena para karyawan akan berupaya menghindarkan pencurian atau penyalahgunaan bila mereka mengetahui bahwa hal seperti itu kemungkinan akan terungkap.

Langkah-langkah pengawasan intern terhadap kas

a) Dalam penerimaan kas (Cash receipt)

- Menentukan fungsi-fungsi dalam penerimaan secara jelas dan menetapkan agar setiap penerimaan kas segera dicatat dan disetorkan kebank.

- Mengasakan pemisahan fungsi antara pengurus perusahaan (penerimaan dan penyimpanan) dengan pencatatan kas.

- Mengadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan kas.

b) Dalam pengeluarkan kas (Cash Disbursement)

- Semua pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk pengeluaran-pengeluaran kecil yang dilbayarkan dengan menggunakan kas kecil (Petty Cash).

- Pembentukan kas kecil dengan pengawasan yang ketat.

- Penulisan cek hanya dilakukan apabila didukung bukti-bukti dokumen yang lengkap.

- Mengadakan pemisahan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek, dan yang melakukan pencatan terhadap pengeluaran kas.

- Melakukan pemeriksaan interen dalam waktu yang tidak ditentukan (mendadak)

- Menetapkan pembuatan laporan arus kas harian (Daily Cash Flow)

Untuk menerapkan prinsip-prinsip pengawasan interen terhadap kas seperti tersebut diatas, perlu dilakukan :

- Pembentukan dana Kas Kecil (Petti Cash Found)

- Mengadakan rekonsiliasi (Reconciliation) antara saldo kas menurut laporan bank dengan saldo kas menurut pencatatan perusahaan.

- Menggunakan system voucher dalam melakukan pembayaran/pengeluaran uang tunai.

B. INVESTASI AKTIVA TETAP (FIXED ASSETS INVESTED)

1. Pengertian

Aktiva tetap adalah aktiva (kekayaan) yang dimiliki oleh perusahaan, yang sifatnya permanen dan digunakan dalam kegiatan normal perusahaan untuk jangka panjang serta mempunyai nilai yang cukup material.

Tidak ada aturan standar menyangkut usia minimum yang diperlukan bagi suatu aktiva agar bias diklasifikasikan sebagai aktiva tetap. Aktiva seperti itu harus mampu menyediakan manfaat yang berulang-ulang dan normalnya diharapkan berlansung lebih dari satu tahun. Namun, suatu aktiva agar dapat klasifikasikan sebagai aktiva tetap, sebenarnya tidak harus sering digunakan atau digunakan secara terus menerus. Sebagai contoh peralatan cadangan yang hanya digunakan jika peralatan regular rusak atau macet atau yang digunakan semasa periode sibuk tetap harus diperlakukan sebagai aktiva tetap.

Aktiva jangka panjang yang dibeli untuk dijual kembali sebagai bagian dari bisnis normal tidak di klasifikasikan sebagai aktiva tetap, terlepas dari sifatnya yang permanent atau lamanya waktu aktiva tersebut berada dalam persediaan. Sebagai contoh, tanah atau real estate lain yang belum dikembangkan, yang dibeli sebagai investasi yang kemudian dijual kembali harus diperlakukan dalam neraca sebagai investasi dalam seksi aktiva.

Biaya normal yang muncul akibat pemakaian atau pengopersian aktiva tetap dilaporkan sebagai beban dalam laporan laba/rugi perusahaan. Biaya pembelian aktiva tetap menjadi beban sepanjang periode waktu tertentu. Dalam seksi berikut, kami akan membahas biaya-biaya akuisisi (pembelian) aktiva tetap dan pengakuan biaya-biaya tersebut sebagai beban.

Aktiva tetap mempunyai karateristik sebagai berikut:

- Digunakan dalam kegiatan normal perusahaan, artinya aktiva tersebut dimiliki untuk digunakan, tidak untuk dijual kembali atau sebagai investasi.

- Masa manfaatnya lebih dari satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan.

- Mempunyai nilai yang cukup material, artinya nilai/harga aktiva tersebut cukup tinggi. Misalnya: Tanah, bangunan, mesin-mesin, dan kendaraan. Sedang untuk aktiva yang nilainya kecil, walaupun dapat digunakan dalam jangka panjang,tidak digolongkan sebagai aktiva tetap. Misalnya, pulpen, kalkulator, dan gunting.

Berdasarkan sifatnya, aktiva tetap dibagi atas :

- Aktiva tetap berwujud (Tangible Asset)

- Aktiva tetap tidak berwujud (Intangible Asset)

2. Biaya Akuisisi Aktiva Tetap

Biaya akuisisi aktiva tetap meliputi semua jumlah yang dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva tetap dan membuatnya siap digunakan. Sebagai contoh, biaya pengangkutan dan pemasangan peralatan termasuk sebagai bagian dari total biaya aktiva tetap.

Berikut beberapa contoh biaya akuisisi aktiva tetap!

1) Tanah (Land)


· Harga beli

· Pajak Penjualan

· Biaya perizinan dari pemerintah

· Biaya balik nama

· Biaya survey

· Pembongkaran bangunan yang tidak diperlukan

· Pengrataan

· Pengaspalan jalan umum yang membatasi dengan jalan

2) Bangunan (Building)

· Fee arsitek

· Fee insinyur

· Biaya asuransi selama konstruksi

· Bunga atas uang yang dipinjam untuk membiayai konstruksi

· Jalan setapak kesekitar bangunan

· Pajak penjualan

· Reparasi (pembelian bangunan bekas)

· Modifikasi sebelum digunakan

· Izin dari badan-badan pemerintah

3) Mesin dan peralatan (Equipment)

· Pajak penjualan

· Pengangkutan

· Pemasangan

· Reparasi pembelian (peralatan bekas)

· Perakitan

· Modofikasi

· Pengujian sebelum digunakan

· Izin dari badan-badan pemerintah

3. Peyusutan Aktiva Tetap (Depreciation)

Karakteristik Penyusutan Aktiva Tetap

Aktiva tetap lainnya seperti peralatan, bangunan, dan pengembangan tanah akan kehilangan kemampuan mereka, seiring dengan berlalunya waktu untuk menyediakan manfaat kepada perusahaan. karena biaya peralatan, bangunan, dan pengembangan tanah harus ditranfer keakun beban. Dengan cara yang sistematis sepanjang umur manfaatnya. Tranfer periodic ini dari biaya kebeban dinamakan dengan penyusutan (Depreciation).

Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kemampuan aktiva tetap untuk menyediakan manfaat bisa diidentifikasi sebagai penyusutan fisik atau kerusakan dan keausan ketika digunakan karena cuaca.

Penyusutan fungsional terjadi jika aktiva tetap yang dimaksud tidak lagi mampu menyediakan manfaat dengan tingkat seperti yang diharapkan.

Aktiva tetap ditujukan untuk digunakan dalam bisnis atau untuk menghasilkan barang lain, bukan untuk dijual. Perusahaan diasumsikan terus menjadi Going Concer jadi, keputusan buntuk melepas aktiva tetap sangat didasarkan pada pemanfaatan aktiva tersebut bagi perusahaan, bukan karena nilai pasarnya.

Tiga faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah beban penyusutan yang diakui setiap periode, yaitu:

1. Biaya awal aktiva tetap

Yaitu semua biaya yang terjadi/dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva tetap sehingga siap pakai dalam kegiatan normal perusahaan.

2. Umur manfaat yang diperkirakan

taksiran umur kegunaan suatu aktiva dipengaruhi oleh cara pemeliharaan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam reparasi. Taksiran umur ini bisa dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi, atau satuan jam kerjannya

3. Estimasi nilai pada akhir umur manfaat

Faktor terakhir ini dinamakan dengan Nilai Residu, Yaitu jumlah atau nilai yang diperkirakan akan dapat diterima bila aktiva yang bersangkutan dijual atau ditukarkan ketika aktiva tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi secara ekonomis dan tidak produktif lagi.

Nilai residu aktiva tetap pada akhir umur manfaatnya harus diestimasi pada saat aktiva tersebut mulai dipakai. Jika suatu aktiva tetap diperkirakan hanya memiliki sedikit nilai residu atau bahkan tidak sama sekali, maka biaya awalnya harus dialokasikan seluruh sepanjang umur manfaat yang diperkirakan sebagai penyusutan. Namun, jika aktiva tetap diperkirakan memiliki nilai residu yang signifikan, maka selisih antara nilai awal denan nilai residu, yang dinamakan biaya yang dapat disusutkan, adalah jumlah yang harus disebarkan sepanjang umur manfaat aktiva sebagai beban penyusutan.

Umur manfaat yang diperkirakan atas aktiva tetap juga harus diestimasi pada saat aktiva tersebut mulai digunakan. Estimasi umur manfaat yang diharapkan tersedia dari berbagai asosiasi perdagangan dan publikasi-publikasi lainnya.

Dalam praktek, banyak perusahaan menggunakan pedoman bahwa semua aktiva yang ditempatkan atau dikeluarkan dari pemakaian selama pertengahan pertama dari suatu bulan diperlakukan seolah-olah kejadian tersebut terjadi pada hari pertama bulan bersnagkutan. Yaitu perusahaan menghitung penyusutan atas aktiva ini untuk sebulan penuh. Begitu juga, semua akuisisi atau penjualan aktiva tetap selama pertengahaan kedua dari satu bulan diperlakukan seolah-olah kejadian tersebut terjadi pada hari pertama bulan berikutnya.

Perusahaan tidak dihruskan menggunakan satu metode penyusutan tunggal bagi semua aktivanya. Tiga metode penyusutan yang paling umum digunakan adalah:

- Metode Garis Lurus (Straight Line Methode)

- Metode Unit Produksi (Unit of Production Method )

- Metode Saldo Menurun (Declining-Balance Method)

a) Metode garis lurus (Straig Line Method)

Metode garis lurus menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama setiap tahun sepanjang umur manfaat suatu aktiva tetap.







D : Penyusutan (Depreciation)

C : Harga perolehan (Cost)

R : Nilai sisa (Residu)

N : Usia ekonomis


sebagai contoh asumsikan bahwa biaya akuisisi aktiva tetap adalah Rp 24.000.000 estimasi nilai residu adalah Rp 2.000.000 dan estimasi umurnya adalah 5 tahun. Penyusutan tahunan aktiva tersebut dihitung sebagai berikut

Rp 24.000.000 – Rp 2.000.000

5

= Rp 4.400.000,-

Jika suatu aktiva tidak digunakan setahun penuh, maka penyusutan tahunannya disesuaikan menurut lamanya pemakaian. Misalnya saja asumsikan bahwa tahun fiscal berakhir tanggal 31 Desember dan aktiva tersebut mulai digunakan tanggal 1 Oktober. Penyusutan untuk tahun fiscal pertama adalah

Rp 4.400.000 x 3

12

= Rp 1.100.000,-

Demi kemudahan penerapan metode garis lurus penyusutan tahunan bisa dikonversi ke persentase biaya yang dapat disusutkan. Persentase ini ditentukan dengan membagi 100 % dengan lamanya umur manfaat.

c. Metode Unit Produksi (Unit of Production Method)

bagaimana anda menyusutkan aktiva tetap yang umur manfaatnya berkaitan erat dengan tingkat pemakain, bukan dengan waktu? Jika tingkat pemanfaatan aktiva tetap bervariasi dari tahun ketahun, maka metode unit produksi tepat digunakan dalam menentukan beban deprisiasi daripada menggunakan metode garis lurus. Dalam hal ini, metode unit produksi mampu menandingkan lebih baik beban penyusutan dengan pendapatan terkait.

Metode unit produksi menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama bagi setiap unit yang diproduksikan atau setiap unit kapasitas yang digunakan oleh aktiva.

Untuk menerapkan metode ini, umur manfaat aktiva diekpresikan dalam istilah unit kapasitas produksi seperti jam atau mil.total beban penyusutan untuk setiap periode akuntansi kemudian ditentukan dengan mengalikan penyusutan perunit dengan jumlah unit yang dihasilakan atau digunakan selama periose dimaksud.




Contoh:

Asumsikan bahwa sebuah mesin yang berbiaya Rp 24.000.000,- dan estimasi nilai residu Rp 2.000.000,- diperkirakan memiliki estimasi umur manfaat 10.000 jam estimasi. Penyusutan per jam dihitung sebagai berikut:

Rp 24.000.000 – Rp 2.000.000

10.000

= Rp 2.200 / Jam

dengan mengasumsikan bahwa 2.100 jam selama 1 tahun, maka penyusutan untuk tahun tersebut adalah :

Rp 2.200 x 2.100 jam = Rp 4.620.000

d. Metode Saldo Menurun (Declining-Balance Method)

Metose saldo menurun menghasilkan beban periodi yang terus menurun sepanjang estimasi umur manfaat aktiva. Untuk menerapkan metode ini, tariff penyusutan garis lurus tahunan terlebih dahulu harus digandakan.

Sebagai contoh, tariff penyusutan saldo menurun atas suatu aktiva yang memiliki estimasi umur manfaat 5 tahun adalah 40 % yaitu dua kali tarif garis lurus sebesar 20 % (100% / 5 ) untuk tahun pertama, biaya aktiva dikalikan dengan tariff saldo menurun. Setelah tahun pertama, nilai buku (Book Value) yang menurun (biaya dikurangi akumulasi penyusutan) dikalikan dengan tariff yang dimaksud

DAFTAR PUSTAKA

Husnan, Suat. 1998. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi 3. AMP YKPN.

Niswonger. 1997. Investasi Dalam Sekuritas. AMP YKPN.

Reeven. 2002. Trik-trik Berinvestasi dalam Saham. Erlangga.

Warren. 1998. Prinsip-prinsip akuntansi. Jilid 9. Erlangga.

0 komentar:

Give Ur Comment :